Taubat
Oleh; Dharma Santika Putra
BENCANA yang datang silih berganti rupanya telah membuat elit bangsa ini mejadi jerih, kehilangan akal sehat dan juga keiklasannya. Apakah selama ini Sang Khaliq tidak lagi mau mendengarkan doa-doa dan permohonan maaf dari hambanya? Kenapa bencana demi bencana seolah enggan beranjak dari bumi pertiwi tercinta ini? Bahkan ada bencana yang harus diderita hingga puluhan tahun dan beranak pinak seperti yang terjadi dengan lumpur Lapindo Brantas yang lambat laun pasti akan menenggelamkan sebuah bangunan peradaban yang bernama Sidoarjo.
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
Dengan dosa-dosa…
Demikian penyair yang penyanyi Ebiet G. Ade dalam sebuah lagunya.
Ya. Ketika air mata belum lagi kering dan doa-doa pengantar jalan kepulangan untuk para karib, sahabat, kerabat atau anak bangsa lainnya usai dipanjatkan, kabar buruk sebuah bencana kembali terjadi. Gempa di Sumatera Barat, tanah longsor di NTT, terbakar dan meledaknya pesawat udara di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Angin puting beliung yang memporakporandakan berbagai daerah di tanah air, bahkan hingga merenggut nyawa anak-anak bangsa yang entah apa dosanya.
Ada apakah dengan negara dan bangsa ini? Adakah segala bencana dan segala kecelakaan yang terjadi ini memang merupakan sebuah cobaan dan juga peringatan dari Sang Maha Kasih, Sang Maha Cinta? Kalau semua ini memang sebuah cobaan dan peringatan dari Gusti Allah, kenapa yang harus menderita adalah para kaulo, para jelata dan mereka yang senantiasa dimiskinkan oleh negara dan para pemimpinnya?
Kalau memang ini merupakan sebuah hukuman dari Sang Khaliq, kenapa yang harus dikorbankan adalah putra terbaik dari bangsa ini seperti Pak Kusnadi itu? Kenapa bukan mereka-mereka yang menyebabkan rakyat menjadi miskin, menderita dan termiskinkan? Kenapa yang menjadi korban bukan para tuan dan puan yang duduk ongkang-ongkang di balik derita para jelata yang tersiksa seumur-umur oleh lumpur panas di Porong Sidoarjo? Kenapa?
Ini bukan cobaan dari Gusti Pengeran, bukan juga hukuman atau peringatan dari Sang Maha Tunggal. Tetapi semua ini adalah merupakan buah karma dari laku manusia yang bernama keserakahan. Bencana dan kecelakaan yang terjadi silih berganti bukanlah murni hukum alam atau hukum ilahiah, tetapi lebih merupakan hukum karma yang ditanam oleh manusia sendiri, dan kini harus dipetiknya.
Kalaupun kemudian banyak elit bangsa yang berteriak untuk melakukan ruatan nasional atau taubat nasional, itu jelas bukankah sebuah jawaban dan jalan keluar. Apakah lumpur panas yang konon baru bisa berhenti 30 tahun lagi itu merupakan hukum alam atau hukum ilahiah? Bencana lumpur panas di Porong Sidoarjo terjadi karena hukum para makelar dan hitungan-hitungan pat glipat para cukong.
Apakah meledaknya Garuda di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta karena hukum ilahiah sehingga yang bertanggungjawab tidak perlu untuk dimintai keterangannhya, atau sampai harus mempertanggungjawabkannya dan mundur dari kursi jabatannya?
Ketika terjadi banjir di ibu kota negara Jakarta Raya, dan kemudian disebut sebagai bencana lima tahunan, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tegas-tegas menolak. Gus Dur menolak kalau bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya itu disebut sebagai bencana alam, tetapi sebuah bencana yang lebih disebabkan oleh kerakusan dan ketamakan manusia dalam memperlakukan alam.
Demikian juga ketika para elit bangsa ini menyerukan untuk taubat nasional, maka pertanyaannya adalah, ”Siapakah yang harus bertaubat?” Apakah rakyat yang sudah terhimpit oleh berbagai kesusahan ini juga harus bertaubat? Atau mereka diminta untuk berdoa dan ngampuro kepada Gusti Allah untuk para cukong pembabat hutan? Atau mendoakan agar para cukong yang selama ini memperkosa tanah, air dan segala isi perut bumi agar terbebas dari bencana dan kutuk neraka?
Rakyat sudah lama bertaubat. Rakyat sudah lama prihatin dan dipaksa untuk ngelakoni puasa Senin-Kamis lantaran kemiskinan yang menghipit. Haruskah mereka kembali dihinakan untuk ikut bertaubat dan mendoakan agar para penjarah dan perompak negeri ini terbebas dari kutuk dan hukuman?
Kalau memang negeri ini ingin bertaubat dan bencana tidak lagi datang menjelang, maka langkah yang haus dilakukan sederhana saja. Yaitu, jadikan para penjarah bumi pertiwi ini sebagai tumbal. Yang paling gampang adalah, hukum gantung saja mereka-mereka yang menyebabkan bencana lumpur panas di Porong Sidoarjo. Karena menurut penerawangan para tetua kita, semua bencana berawal dan berakhir di sana.
Tetapi apakah pemerintah berani? Saya hakul yakin pemerintah tidak berani. Dan itu artinya, bencana datang lagi. Hidup bencana!
Rabu, 01 April 2009
Langganan:
Komentar (Atom)